Temukan aku, di tempat itu #1

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Demi Tuhan, terlalu lama waktu 7 tahun itu. Tapi aku tak mau mengutuki waktu yang kutetapkan sendiri untuk kembali bertemu denganmu lagi. Karena memang butuh waktu yang lama kan untuk merekatkan hati yang hancur? Apalagi setelah kutemukan fakta kamu tidur dengan perempuan lain.



Tapi tahukah kamu aku luar biasa merindu? Kuabaikan sakit hatiku untuk merindu kembali sosokmu. Kucoba berdamai dengan diriku sendiri, dan kubiarkan cinta yang meraja diatas segala emosi.


Dan sebelum benar-benar berpisah kita saling meyakinkan, suatu saat kita pasti bertemu. Tentu, cinta mengalahkan segalanya. Aku masih ingin bertemu denganmu.


Tapi setelah ini tiada pertemuan yang disengaja. Tiada pertemuan yang sengaja kita rancang, untuk didatangi. Biarkan sekali lagi kita bertemu di ketidaksengajaan yang direncanakan Tuhan. Di dalam pertemuan takdir, seperti waktu pertama dulu.


Kau senior sepupuku di kampus kota tetangga yang berjarak dua jam dari rumah. Approve friend request Facebook-ku jam 3 subuh yang diluar dugaan langsung berjawab sapa darimu. Perkenalan macam apa yang dilakukan di dini hari yang hening dan bukan malam hari libur, juga dalam keadaan aku luar biasa capek karena datang dari luar kota? Tapi ada hal absurd yang menarikku untuk online dan bukannya memilih untuk tidur. Selanjutnya bertukar nomor ponsel, memperkenalkan hal pribadi seharian dengan keadaan kurang tidur lewat telepon dan 24 jam kemudian kita resmi in relationship. Lalu 3 hari kemudian kita bertemu untuk pertama kalinya di rumah sakit.


Ya. Rumah sakit. Tempat yang unik untuk bertemu, karena pagi itu kamu tak bisa menemuiku di rumah sedatangmu dari wisata ke Jogja karena aku ada janji dengan dokter untuk pemeriksaan lanjutan penyakitku.


Kita belajar saling mencintai sampai 1 tahun 3 bulan berikutnya, hingga aku melahirkan suatu faham aneh bahwa cinta yang dipelajari dari seluruh kekurangan dan kelebihanmu dari nol adalah suatu usaha besar yang mungkin akan membuat cinta ini permanen meski kita berpisah oleh hal yang luar biasa menyakitkan. Tak seperti cinta instan yang melalui proses jatuh cinta dan kasmaran seperti sebelum-sebelum ini, aku mencintaimu tanpa jatuh cinta karena aku tak pernah tak memilikimu. Kamu ada untukku, begitu saja.
Kalau semua bukan takdir, lalu apa?


Tapi jika memang Tuhan menakdirkan kita tak bertemu lagi dalam takdir, kita akan berjanji bertemu 7 tahun setelah perpisahan ini. 28 September 2016, jam 9 pagi. Di tempat yang sama dan waktu yang sama. Di poliklinik rumah sakit ini, seperti waktu itu.


Tapi kini aku tak mampu lagi tahan. Aku kembali, dan akan menunggumu. Mungkin tak seperti di lagu The Script - The Man Who Can't Be Moved, menunggu sambil berkemah di dalam sleeping bag di ujung jalan dan takkan berpindah lagi, tapi di setiap tanggal 28 di setiap bulan aku akan kembali kesana.


Meski aku tahu aku takkan menemukanmu disana di setiap tanggal itu atau bahkan tanggal yang ditentukan karena mungkin kamu sudah lupa.

"I know it makes no sense, what else can I do? How could I move on, when I feeling love with you?"


Tapi, tak ada salahnya kan aku berharap kamu disana atau hanya sekedar untuk mengingatmu seperti waktu itu? Yang muncul sambil tersenyum di pintu bagai matahari mungil dengan kaos oranyemu dan lebih bercahaya dari matahari jam 9 pagi di hari yang cerah?


"Cause if one day you wake up and find that you're missing me, and your heart starts to wonder where on this earth I could be... Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet... And you'll see me waiting for you, on the corner of this street."



Dan jika kita bertemu lagi, kita akan berjalan bersama seperti ini, seperti di awal kan ya? :)

0 comments:

Post a Comment