Endless Devotion Words of Affection, Romance and Deflagration

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Ini semua tentangmu. Tentangmu, yang eksistensinya yang begitu membakar bagai bintang jatuh. Semoga pijarnya tak sekadar terang, lalu menghilang.

Pertemuan yang membuatku kembali yakin bahwa jatuh cinta itu memang tak bisa pada sembarang orang, bahwa pertemuan adalah bagian campur tangan Tuhan yang semua tanya tentangnya tak mampu terjawab juga terelakkan. Mengapa? Mengapa dari sekian banyak harus kamu? Seberapa besar kemungkinan kita bertemu? Mengapa cuma kamu yang mampu memecah kebekuan biru itu?


"Magically you," kataku. Mungkin cuma itu kata-kata yang cocok. Untukmu yang muncul dalam wujud sempurna yang kumohonkan sepanjang waktu pada Tuhan. Untukmu yang mewujudkan tiap detail mimpi delusi yang hanya berani kupikirkan, tanpa berani menuntutnya untuk terjadi. Untukmu yang dekapnya mampu membuatku merasa kembali ke 'rumah'. Untukmu yang seluruh lemah lembutnya membelai, saat dunia dalam sedikit sentuhnya saja menyakiti...


Karena denganmu, impian yang dituangkan dalam bentuk cerpen itu tak lagi fiksi. Dihiasnya semua menjadi serangkai cerita mirip dongeng. Resort terpencil di atas bukit, beranda, bukan kopi; melainkan Yuzu Tea, ciummu di bawah ribuan gugusan bintang yang bersinar menghias langit dengan minim light polution, serta bintang jatuh yang terpetik lewat harap kita beberapa menit lalu. Dengan semua keajaibannya, tidakkah Semesta begitu menyayangi kita berdua, wahai Sayangku?

Bila pada nantinya semua perih dan kegagalan yang meluluhlantakkan sendi-sendi hidup, setidaknya kita punya satu sama lain, bukan?



Lalu pada akhirnya, hanya satu. Hanya kamu yang aku perlu. E, I love you.


"...If your intensions are pure, I'm seeking a friend, for the end, of the world..."

Mungkin

Author: Rizka Sonnia Haliman /

"Aku tak mau membuatmu hancur."

Satu-satunya kalimat yang menurutku paling tulus meluncur dari mulutmu hari itu. Tanpa defense-offense dan pride yang tidak perlu, yang membuat malam manis itu jadi kelabu.

Aku tersenyum kecut, "Terlanjur."

"Ya aku tak mau membuatmu lebih hancur, kalau begitu."

Lalu kemudian kamu pergi. Dan hanya kalimat-kalimat itu; dalam suara rendah dan dalammu yang aku ingat. Ingatan yang aku putar berulang-ulang saat aku bertanya kenapa harus kamu yang kujatuhi hati sedalam ini setelah sekian lama dan kenapa kamu harus pergi. Mungkin kamu hanya ingin aku dan kamu tak terlibat terlalu jauh pada cinta yang tidak mungkin. Mungkin kamu berpikir aku tak cukup baik, tak cukup menyenangkan untuk sekedar mendapatkan pertemuan kedua apalagi lebih. Mungkin aku. Mungkin kamu. Mungkin mungkin mungkin.


Untukmu M.E.J, yang datang sekejap lalu menghilang bagai bintang jatuh. Kamu yang menyisakan kekaguman, dengan segudang kemungkinan.

Kamu pergi sebelum aku sempat memintamu bercerita lebih tentangmu yang sebenarnya. Bukannya sekedar lawak receh tanpa mengenal satu sama lain.


Jadi bila kamu bertanya tentang alasan mencinta... Cinta bisa datang tanpa alasan yang jelas, kamu tahu.

Mungkin kamu lupa soal cinta-cinta muda yang murni dan tak memperdulikan kasta, harta maupun strata.

Mungkin kamu berpikir bahwa cinta harus bergandengan dengan kemungkinan yang masuk di akal. Tapi percayalah, hati dan otak memang dirancang tidak bekerja beriringan.

Mungkin benar kata orang-orang; saat kita tumbuh dewasa dan menua, lalu mendapati cinta itu hanya sekadar ketertarikan pada aspek sementara yang mudah hilang. Bukannya hal yang diagung-agungkan "tak lekang masa".

Atau juga mungkin benar mengenai cara wanita yang mencintai dari 0 sampai 100, sementara lelaki mencinta dari 100 sampai 0. Mungkin mungkin mungkin.Hasil gambar untuk rain drops


Tapi yang kamu tak pernah tahu, mungkin cinta itu datang semudah sosok manismu yang di atas ATV tiba-tiba muncul di layar hpku.

Mungkin cinta itu sekedar karena namamu (ya, aku selalu suka namamu bahkan sebelum bertemu denganmu!).

Mungkin karena lawakan garingmu yang sebenarnya jauh dari lucu datang di saat yang ntah salah, ntah tepat; saat tak satupun aspek hidup mampu membuatku tersenyum apalagi tertawa. Tapi memang kita tak pernah tahu seberapa besar peran kita di kehidupan orang lain, bukan?

Mungkin karena kamu pernah membuatku merasa diinginkan, saat kebencian-kebencian rasanya terlalu banyak membakar di sekitar.

Mungkin karena kamu membantuku menemukan alasan jangka pendek untuk menyelesaikan semua yang terbengkalai; sekedar agar aku bisa secepatnya bertemu denganmu.





Untuk semua yang dielakkan, pada cinta mungkin kita harus menerima. Bahwa kita bukan manusia super yang mampu melawan gravitasi; melawan kata hati. Jangan menyangkalku. Datanglah, biar kita lebur segala asumsi-asumsi.


Pergi ke taman hiburan sendiri, kenapa engga?

Author: Rizka Sonnia Haliman /



Pecinta wahana? Tapi temen-temen kamu kebanyakan bakalan muntah kalo naik wahana yang agak ekstrim? Atau mereka sibuknya pake banget? Atau karena musim hujan bikin orang pada mager alias males gerak? Cobalah untuk bepergian ke taman hiburan sendiri seperti yang saya lakukan barusan! 



Kalau kamu pergi sendirian, kamu bisa lebih bebas dalam mengambil aktivitas. Seperti kalau kamu mau, kamu bisa duduk di bangku taman selama setengah jam hanya dengan mengamati wahana-wahana yang sedang beroperasi dan memilih urutan wahana yang kamu naiki semau kamu. Mau naik, ya naik. Mau engga, bebas. 

Bila kamu takut kesepian di tengah keramaian, jangan ragu untuk mengajak bicara siapa saja di sana. Misalnya pengunjung lain yang jadi nyambung gara-gara duduk dan teriak-teriak bareng di wahana yang naiknya ramean atau dengan operator wahana. Kali-kali mereka mau berbaik hati kasih kamu ekstra waktu atau ekstra putaran naik wahana karena kamu sendirian (ini sih lebih karena kasihan ya, haha!). Percayalah, energi positif taman hiburan akan membuat siapa saja lebih mudah untuk diajak berinteraksi. Siapa tahu bisa nambah temen atau malah ketemu jodoh (selalu saja ujung-ujungnya).


Juga jangan khawatir soal naik wahana yang duduknya berdua, seperti kebanyakan roller coaster contohnya. Nanti pasti ada di antara rombongan-rombongan itu yang jumlahnya ganjil dan mau nggak mau mereka jadi nemenin kamu yang sendirian. Saya tadi aja narik salah satu operator wahana buat nemenin saya naik roller coaster dan masuk ke rumah hantu.


Oh ya, kalo kamu suka mengambil gambar jangan lupa bawa tongsis. Supaya meski sendirian kamu tetep bisa eksis dengan selfie. 


Masih nggak percaya kalo kamu bisa seru-seruan meski sendiri? Coba aja search di Google dengan keyword "go to amusement park alone". Bakal banyak bermunculan tips-tips, pertanyaan seputar kekhawatiran kamu berserta jawaban yang menguatkan bahwa pergi bertamasya ke taman hiburan sendirian itu tetaplah seru. 
Ini dia salah satu tips favorit saya: http://www.themeparkinsider.com/flume/201404/3976/

Selamat seru-seruan! 


Teruntuk Cantikku

Author: Rizka Sonnia Haliman / Labels:

Teruntuk Cantikku yang selalu aku rindukan.


Banyak yang memilih tidak percaya soal betapa ajaibnya persahabatan kita. Seorang perempuan berusia dua puluhan awal dengan seekor kucing kampung betina yang tiap tiga atau empat bulan sekali hamil. Tapi kamu istimewa. Bagiku kamu kucing tercantik yang pernah aku temui. Kuperhatikan sekeliling, memang kamu yang paling cantik sih. Matamu tajam. Badanmu kecil. Motifmu unik. Dan kamu, ibu yang bertanggung jawab dengan anak-anakmu.

Alasan aku sayang banget sama kamu, juga karena saat aku patah hati berat kamu yang menemani di tiap tengah malam. Dan semalam apapun aku pulang, padahal aku lihat kamu jauh di gang sebelah, saat aku membuka pintu mobil kamu sudah mengeong di depan pintu rumah.

Tapi sekarang berubah. Kamu nggak lagi kayak dulu. Aku tahu, Cantik. Kamu sebenarnya cuma salah paham aja. Aku menyelamatkan anakmu, kamu ngira aku menculik anakmu, anakmu kukembalikan, kamu malah lari. Begitu anakmu mati, kamu baru datang mencari. Dia masih terlalu kecil buat kamu tinggal. Dan waktu itu, kenapa kamu tinggalin anakmu di atap? Dia mengeong tanpa henti tiga hari tiga malam.
Aku memendam kecewa, kamu nggak pernah lagi ke rumah.



Sudah ya Cantik, kita akhiri saja semua kesalahpahaman ini. Aku kangen. Aku tetep sayang banget sama kamu. Mainlah lagi ke rumah ya... :'(

Hey, Laba-laba @spidertazmo!

Author: Rizka Sonnia Haliman / Labels:

Aku pilih kamu aja kali ya buat yang pertama 'beruntung' dapet surat cinta di event #30HariMenulisSuratCinta :p


Oh ya aku makasih banget dulu buat hari ini. Kamu yang nemenin dari pagi sampai pagi lagi dalam tawa, jengkel, kekaguman, juga berbagi definisi-definisi idealis yang mungkin nggak semua orang bisa terima.


Satu pertanyaan sisipan. Kenapa Spidertazmo? Jawabnya lewat mana aja juga boleh. Darat, laut, udara, puisi, telepati atau pos merpati juga boleh.


Perbincangan panjang pertama, tapi rasanya nggak pertama juga. Ada momen, yang mungkin kamu sendiri nggak inget tapi aku nggak akan pernah lupa. Saat aku mempertanyakan di mana batas bersabar itu dan kita bukan Tuhan yang bisa memaafkan semua kesalahan yang ada. Jawabmu simpel, jauh dari menggurui. Bahwa sabar itu bukan perihal berbatas atau tidak, tapi mau tidaknya kita bersabar sekali lagi. Di situ aku terdiam, kehabisan kata. Sesudah itu semua, setiap ada amarah yang terpecah semua sudah kupastikan dalam kendali. Less regret. Dan satu pertanyaan dalam hidup sudah terjawab.


Oh ya, sebenernya kemaren Oktober aku ke Cibubur lima hari. Kayaknya deket ya sama Bogor? Sayang banget kita nggak bisa ketemu. Teman dunia maya, bertahun-tahun berkorespondensi tapi tak pernah bersua, bertemu lewat apa pun sampai lupa.




Ah, sudah dulu ya. Sudah subuh dan sudah waktunya melanjutkan hibernasi.

Semoga kamu magabut lagi hari ini. Dan Tuhan yang balas semua kebaikan atas bersedianya kamu beri banyak tawa yang membantu pemulihan dari demam berdarah yang menyiksa.

Tetaplah idealis, tetaplah manis, tetaplah single sampai obrolan berteman kopi nantinya.




See you around in my town.

Sea Sparkle

Author: Rizka Sonnia Haliman /





Satu tahun. Mungkin lebih. Debar itu ada di sana. Bila kamu, bila mereka bilang ini tak masuk akal maka akupun takkan menyangkal. Bahwa hadirmu begitu terasa, begitu ada. Tak sekedar nyaman, namun lega. Atau mungkin hati ini memang dirancang untuk tak mungkin mengabaikanmu?


Kamu buat yang mati berdetak. Kamu tunas hijau di ladang gersang. Kamu kemilau dari hitamnya lautan.


Kamu di sana. Aku yang tak berkata-kata, tak berwajah, namun gemuruh hati ini kamu sadari.
Seberapa banyak kita saling mengenali? Sudahkah pantas aku menyebut diri sebagai pecinta?
Mungkin saja lewat udara kita bisa bertukar apa. Semoga.


Tak perlu berbalas. Memastikan adamu baik adanya dari kejauhan, sekedar itu inginku.



Tapi hati ini... Bagaimana bisa bukan, bila semesta selalu saja sebut namamu secara kebetulan?








Kau, Aku dan Rindu yang Bisu

Author: Rizka Sonnia Haliman / Labels:


Berdekatan, berjarak sebentang peluk. Tiada yang beda, termasuk getar di dada.


Lewat dua kopi hitam dalam genggaman, kita bertukar kabar
Melebur rindu yang bisu, dua hati lampaui beku waktu.


Surabaya, malam minggu.
Ntah seberapa lama aku tak melihat cahaya kota begitu gemerlap namun sendu, dari apartemenku lantai dua puluh tujuh
Atau kau yang buat semuanya jadi lebih terang?


Ah. Maaf bila aku terlalu banyak bersemu
Tapi hari ini, terlalu banyak kelegaan meluap-luap yang kulahap.
Selain kebanggaan aku masih mengingat komposisi kopi favoritmu, dua cangkir sedap robusta yang kita sesap
Serta ku masih bisa bertatap dan tak ada satupun cincin kawin yang tersemat.


Ternyata aku tidak tenggelam dalam delusi
Bahwa dua tahun lalu semua sudah terhenti.
Tapi bagaimana bila cinta yang ada, memang tak lekang masa?



Tak apa. Melihatmu bahagia di sana dan di sampingku sesaat saja, sudah lebih dari cukup.







Tapi kumohon biarkan kali ini saja kita berdua membelah malam. Tanpa dia. Tanpa sesiapa.
Meski nantinya, tak usah bersama.









*Daniel Sahuleka - Don't Sleep Away This Night*


Keseimbangan itu berjudul... Kalian

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Aku menemukan kalian di antara reruntuhan hati serta keringnya hari-hari. Semacam oase penuh air di tengah gurun untuk mereka yang kehausan, seperti shelter untuk mereka yang butuh tempat tinggal.







Kebersamaan.













Semua terasa begitu tepat. Nyaman, seperti pulang ke rumah. Keseimbangan dari apa yang ada di hati dan pikiran.






Percayalah, aku tak punya waktu untuk bersedih saat bersama kalian.






Persahabatan, Petualangan, Cinta.

Dih, perasaan kayak taglinenya Ragnarok Online. Bodo ah.


Di sudut Jl. Pemuda









Acara Cangcor yang kedua!














Aku lupa kita ini di cafe apa namanya  :))














Kumpul bareng makan nasi Boran di emperan Lamongan yang bikin ketagihan!








Yang aku ingat, saat bersama kita selalu tertawa. Tapi yang paling konyol adalah waktu kita bikin Harlem Shake (tonton di sini). Asli kocak! Pengalaman tak terlupakan menjadi bagian kekonyolan dunia. Dan...... Sukses! Cheers!






Ah, ya. Untuk kamu, my dearest one @nienkroem makasih banyak sudah mengenalkan aku pada mereka semua. Peluk, cium buatmu selalu.


"Tak perlu seseorang untuk meraja. Biar saja, kalian yang berdesakan di sini. Di hati."



Love you, guys!







Reunited

Author: Rizka Sonnia Haliman /


Segelas kopi Long Black, dua sachet gula serta satu sachet brown sugar. Aku mengambil dua sachet gula berjaga-jaga kopinya terlalu pahit atau takaran satu sachet itu tak sama dengan satu sendok gula seperti di rumah.

“Wah brown sugar, enak nih!” respon pertama begitu aku menaruh nampannya di depanmu.

Aku sudah tahu kau pasti suka.

Malam minggu di Surabaya. Ntah sudah berapa lama aku tak melihat cahaya kota dari lantai dua McD Basuki Rahmad segemerlap ini. Atau kau yang buat semuanya jadi lebih terang?

Hari ini, terlalu banyak kelegaan meluap-luap yang kulahap. Selain kebanggaan aku masih mengingat komposisi kopi favoritmu, aku masih bisa bertemu dan kau belum menikah.

Ternyata aku tidak tenggelam dalam delusi, bahwa dua tahun lalu semua sudah berhenti. Tapi bagaimana bila cinta yang ada memang tak lekang masa?

Tak apa. Melihatmu bahagia di sana dan di sampingku sesaat saja, sudah lebih dari cukup.





Saat ini, tak usah bersama.



Surabaya, 23 Maret 2013

Diam, dan Menanti

Author: Rizka Sonnia Haliman /


Barusan saya disodori artikel #HalauGalau yang ditulis oleh mbak Kika, salah satu penulis hebat yang kebetulan saya kenal.
Masalah soal jodoh. Sejujurnya untuk saat ini sebaiknya saya menghindari membaca yang seperti itu dengan kondisi hati yang sedang rapuh-rapuhnya.

Tapi, lagi-lagi nekat.

Sebenarnya membaca seperti ini tidak terlalu mengembangkan pikiran, tapi memang itu sudah ada di dalam hati. Mengendap, menunggu diidentifikasi.

Mr (Not So) Right. Mungkin memang begitu adanya di dunia ini. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti kata penasehat saya kemarin, Mr Purba bilang bahwa yang kamu mau tidak tersedia di bumi ini. Tapi kita yang bentuk perlahan, dengan kasih sayang. Saling menyempurnakan.

Lupakan optimisme cinta. Itu hanya buat saya semakin sedih.

Ada yang pernah dengar lagu milik Dewi Lestari yang judulnya Curhat Buat Sahabat? Isinya tentang lelahnya pencarian cinta. 5 tahun dibutuhkan untuk menyerah mengharap pada yang salah. Akhirnya dia memilih untuk diam, duduk di tempatnya menanti seorang yang biasa saja.
Dia ingat saat dia sakit flu kemarin, saking parahnya sampai tak bisa beranjak dari tempat tidur. Tak ada siapa-siapa, obat flu pun habis. Akhirnya harapannya hanya satu, ada orang yang membawakannya air hangat untuk membantunya minum obat. Yang sudi menggenggam tangannya, berkata bahwa dia tak sendirian. Akhirnya, hanya itu yang dia inginkan.
Sesederhana itu.

Setelah saya sakit tipes kemarin, mungkin harapan saya sama seperti lagu itu. Nggak mau muluk-muluk. Tak usah orang yang mengantar saya ke dokter, karena saya harus pergi ke dokter sendirian meski miris rasanya hati ini. Tak apa lah, selama saya masih mampu.
Akhirnya yang saya harapkan hanya satu, seseorang yang sudi menanyakan apa saya tak apa-apa menyetir sendirian di tengah badai, di tengah tipes saya yang membuat saya tidak konsen dan lemas tudemeks juga kedinginan. Karena kota saya lagi sering diterpa badai akhir-akhir ini, sehingga menyetir dalam kota saja jarak pandang pun terbatas. 

Itu harapan saya. Sesederhana itu saja sih. Tapi berhubung tipes saya sudah membaik, harapan saya sekedar jangan sampai tipes lagi. Jadi tak perlu ada harapan tentang lelaki yang sudi menanyakan apa saya baik-baik saja menyetir dalam badai. Cukup. Itu menyakitkan.
Rasanya semua sudah pernah saya rasakan. 

Biarkan aku diam, duduk di tempatku menanti seorang yang biasa saja. Yang memang mencari teduhnya dalam mataku.


Kabut kelabu

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Kehilangan kata-kata. Begitu banyak rasa, aksara yang membuncah dalam dada juga kepala. Tapi apa? Tak ada satupun yang berbicara. Mengapa hanya untuk menjadi diriku sendiri, aku harus menjadi orang lain? Aku hanya manusia. Tak luput dari rasa, cacat, apalagi hasrat. Mewarna langkah dengan ironi dan elegi, dari apa yang sudah terjadi.


Namun aku bisa apa bila Penguasa sudah menulis adanya begini?


Rasa, aksara yang membuncah dalam dada juga kepala. Mengepul. Menguap. Membaur bersama udara.
Biar saja, bila harus begitu adanya.

Confession of Emptiness

Author: Rizka Sonnia Haliman /

This is my hand
It's cold by the rain on the yellow skies
This is my eyes
Never seen the border of this world

Now it`s not my illusions
No I can`t see all my pain
Where were my tears go

This is my hands
It's cold by the rain on the yellow skies
This is my eyes
Never seen the border of this world

May let the sun goes undone
The light will blinded my cries
Confession of emptiness

So why should I release my happiness
So why should I release my emptiness

For you..


(Homogenic - Confession of Emptiness)



Berusaha menulis di sela penyakit flu yang sedang mendera. Oh, mungkin lebih tepatnya berusaha menulis di sela kekosongan jiwa yang semakin dirasa dengan segala petrichor dan suara hujan.


Aku tahu. Apa yang dimaksud lagu ini. Tapi tak lagi ada penjabaran.


Kembalikan sudut pandangku.


Kau yang bawa pergi hidup yang seharusnya di tempatnya.


Aku harus apa? Untuk kembali merasa?


Tawa yang hampa tak bernyawa.


Hati yang tak lagi bergetar, menggeliat saat disentuh cinta.


Lalu aku harus apa?

Labyrinth

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Berbulan-bulan aku aman dari masalah. Bergelung manja dalam selimut di istanaku berukuran 4 x 4.5 meter, bersembunyi dari dunia yang seharusnya ditantang. Meminimalisasi gesekan model apapun yang ada pada peradaban luar termasuk segala kontak pada orang sekitar. Berbicara seperlunya, bersosialisasi jika ada butuhnya. Sekenanya saja.


Aku menikmati hidupku yang tanpa masalah. Melepas semuanya dengan cara melemparkannya di sudut ruangan lalu berhenti untuk mau tahu. Aku menjalani semua yang seharusnya berjalan, tanpa ada yang tak semestinya. Tapi mungkin, justru itu masalahnya.

Masalahnya adalah: semua tanpa masalah. Cukup membosankan saat ini terjadi. Setelah klimaks cerita yang melelahkan, aku beristirahat tapi kemungkinan terlalu lama sampai tak tahu bagaimana harus keluar. Pernah sesekali mencoba membuat konflik sendiri, tapi yang terjadi malah diluar kontrol. Ketakutan, kulemparkan semua lagi tanpa mau tahu dan aku memutuskan untuk tidak lagi bermain api. Menolak bertanggung jawab.

Terus-terusan menetap dalam zona aman, membuatku rapuh. Berkeping, pucat dan goncang begitu terkena hantaman. Meski sebelum aku bersembunyi kondisiku sudah retak. Retak yang rawan, seperti vas yang pernah pecah berhamburan lalu kurekatkan secara asal-asalan.

Atau seperti mawar? Kemarau atau tak tentunya hujan membuat kelopaknya hilang kekuatan. Tersentuh, lalu menjadi kepingan.



Mungkin memang ini hidup, masalahnya berputar tanpa akhir. Berbahagialah yang menurutnya "life is never flat". Rasakan getaran gelombangnya, mengombak dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.

It All Ends

Author: Rizka Sonnia Haliman /




Sudah berminggu-minggu atau mungkin tanpa sadar sudah berbulan-bulan saya menanti dengan cemas kapan Harry Potter and The Deathly Hallows part 2 ini rilis di Indonesia. Selain karena film ini merupakan sekuel terakhir dari ketujuh seri petualangannya dan mungkin ini juga sesi terakhir dimana para Harry Potter mania bakal berkumpul. Seperti sebaris kata dalam poster diatas, It All Ends. Rasa-rasanya seperti datang di last concerts band idolamu. Semacam pesta perpisahan untuk sahabat terbaikmu yang akan pindah secara permanen. Sedih, tapi semua harus diakhiri.


Kemarin sempat beredar desas-desus bahwa ada kemungkinan film ini bakal batal diputar di Indonesia karena permasalahan pajak perfilman yang membuat kita semua terancam hanya menonton part 1-nya saja, mungkin adalah sekelumit berita gembira buat saya diantara hati yang berserakan karena kecewa. Jika memang batal diputar, mau nggak mau saya menonton part 2-nya di DVD. Dan itu artinya saya bisa menunda sampai kapanpun supaya petualangan ini tidak berakhir. Tidak ada farewell party.


Sungguh berat hati untuk untuk pulang seterusnya; kembali ke dunia muggle. Sudah sepuluh tahun sejak pertama kali saya terbengong-bengong, terseret hampir sepenuhnya ke dalam dunia sihir saat nonton Harry Potter and The Chamber of Secret di bioskop. Setelahnya saya memutuskan untuk pergi kesana dan mengenal lebih dekat dunia sihir, juga Harry Potter si anak-yang-bertahan-hidup dengan mengoleksi semua serinya yang saat itu baru sampai seri keempat, Harry Potter and The Goblet of Fire dengan uang jajan sendiri.


Banyak keajaiban yang saya temukan disana. Hanya dengan membuka bukunya saja, otomatis saya langsung ber-apparate ke dunia sihir dan pulang sebagai orang awam begitu bukunya tertutup. Tapi sesungguhnya, mungkin saya takkan pernah menjadi muggle biasa seperti sebelumnya. Besar arti sosok Harry Potter dan teman-temannya, begitu juga sang penulis J.K Rowling dalam hidup saya. Berkat karyanya yang luar biasa, saya menjadi seorang pecinta buku yang addicted akan bacaan dan mungkin dari sini juga yang membangkitkan minat dan ambisi untuk menjadi seorang penulis.


Jutaan orang di dunia telah mencurahkan segala apresiasinya terhadap Harry Potter. Termasuk ada satu percakapan yang saya simak di suatu film, mungkin ini juga bentuk sang sutradara menunjukkan kecintaannya pada Harry Potter dalam film karyanya. Dia membuat suatu percakapan yang berisi, "Kemungkinan J.K Rowling sebenarnya adalah seorang penyihir betulan. Karena dia mampu membuat jutaan orang di dunia 'tersihir' sehingga tak bisa berhenti membacanya sampai akhir." Hmm... Mungkin memang ada benarnya ya.

Saya pun begitu. Tak henti-hentinya saya menujukkan apresiasi saya semenjak jatuh cinta yang tidak direncanakan itu. Saya selalu datang pertama sebelum toko buku dibuka saat peluncuran buku-buku selanjutnya dan datang di hari premiere filmnya sambil bergetar menahan tangis saking antusiasnya. Berlebihan? Mungkin. Dan ini satu-satunya hal yang bisa membuat saya seperti ini di luar hal yang berbau religius.


Siapa sangka, kecintaan saya pada Harry Potter seperti sekarang ini berawal dari keantipatian. Melihat euforia-nya yang luar biasa saat film pertama diluncurkan, justru malah membuat saya tidak tertarik. Apalagi saat kakak perempuan saya pertama kali membawa kepingan CD bajakan ber-subtitle bahasa melayu dan gambarnya yang gelap. Serius, ini membuat saya makin malas ikut menonton juga. Sekali lagi rumus cinta berlaku disini. Bahwa cinta dan benci itu bedanya begitu tipis.


Berita gembira sekaligus berita sedih saat pihak lembaga sensor perfilman Indonesia menyatakan Harry Potter and The Deathly Hallows part 2 telah lulus sensor dan akan tayang sebelum puasa, yang artinya seminggu kedepan ini.


Dan mungkin memang ini saatnya "semuanya berakhir". Harry Potter sendiri juga lelah dan ingin 'istirahat' setelah teror yang terus menghantuinya seumur hidup. Hidup bahagia selayaknya, di tangan para pembaca dan para penonton. Kini keputusan ada di tangan saya untuk mengikutinya sampai akhir. Tapi satu yang saya yakin, bahwa apresiasi dan kecintaan saya terhadap Harry Potter tidak ikut berakhir sampai kapanpun. Salut untuk Joanne K. Rowling.




Ironis

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Alisku tertaut menahan sakit yang tak berfisik tapi mampu membuatku serasa mati tercekik. Ironis. Hanya kata itu yang mampu kuucapkan untuk semua yang terjadi.



Untuk semua kisah yang Tuhan tuliskan dalam linimasa hidupku. Untuk segala kekecewaan atas semua harap yang masih mengalir untukmu. Untuk segala penyesalanku yang terlanjur.


Untuk setiap inci pesakitan cintaku yang kurasa setiap waktu.




Ironis.




Yang butuh kulakukan hanya memotongnya, menghentikan rasa sakitnya saat ini juga. Tapi entah dengan apa.



Tolong, aku butuh obat penahan sakit.

Titik henti #4

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Aku terdiam sendiri. Berjam-jam memandangi layar ponselku, tanpa ada satu pesan darimu yang datang. Dan inikah akhirnya...?


Ini selalu membuatku tertawa kecil. Melawan rasa yang menusuk di dada dan membuatku sejenak kehilangan nafas. Aku tahu ini bakal terjadi. Selalu tahu. Dan harusnya tetap ingat sampai beberapa menit tadi, tanpa harus membuat tanda tanya di belakang kalimat "inikah akhirnya".

Saat dimana isyarat "semua baik-baik saja" darimu adalah jawaban. Ya, isyarat yang berbeda. Semua baik-baik saja-mu berbeda dengan semua baik-baik saja milikku. Milikku yang berarti segala delusional kebersamaan kita, rasa sayang yang tetap di tempatnya meski tak lagi ada komitmen yang terbata terucap. Sementara milikmu adalah akhir dari segala rasa tanpa getaran.

Dan aku terhempas kembali di bumi realita, tersadar bahwa semuanya memang sudah tak ada. Pergi, hancur berpuing. Hanya tersisa tanah sepi di tempat seharusnya aku berada. Bukan dalam awang-awang cinta seperti dulu, membuai haru tersipu saat dawai gitar dan pita suaramu yang memanjakan seirama dengan detak jantungku ditambah kecupan sayang yang mendarat di pipi.


Ya. Semuanya disini sekarang. Aku sendiri. Tanpamu. Memang sudah seharusnya kan?

It occurred to me in the tranquility of last night
That gathering wilted petals won't make them alright
It never grew to a great size, though it was already dead to my eyes
Saying we finished a long time ago is too polite


Aku minta maaf karena aku terlalu sayang padamu....
Tidak ada yang salah dengan rasa sayang itu juga aku yang sayang padamu, jawabmu.


Dan jika kita masih bertahan dengan kondisi seperti ini, mungkin takkan ada masa depan. Terjebak dalam bayang semu, berusaha menahan laju waktu. Padahal seharusnya kita terus berjalan ke depan, dengan harapan Tuhan kan berbaik hati menaruh satu sama lain secara tiba-tiba dalam garis kehidupan untuk kembali saling mencintai lagi di masa mendatang. Juga memberi kesempatan untuk menimbuni hati yang terlanjur berlubang begitu dalam dengan rasa di keadaan yang baru. Denganmu atau sama sekali tanpamu.







Tapi aku tak mau menjadi teman. Jika memang ini akhirnya sebelum kembali bersua untuk bersama atau terpisah selamanya, berakhirlah. Biarkan waktu berjalan, tanpa harus lagi kita menoleh ke belakang.



Kucukupkan tentangmu malam ini. Dan tiada lagi lain hari.

Reunion #3

Author: Rizka Sonnia Haliman /

Setelah berhari-hari mengharu biru, aku sadar bahwa mungkin ini waktunya aku maju dan tak lagi menoleh pada jejak-jejak kita yang tertinggal. Bersabar menanti atau melangkah tanpa arti menuju takdir lain yang Tuhan persiapkan untuk kita. Kita takkan pernah tahu hari esok. Dan aku yang lelah, takkan mencoba menebak-nebaknya lagi. Hancur luluh lantak atau bahagia melayang di awan akan kurasakan saat itu juga, saat ada satu cerita yang menjadi kado dalam bentang hari.


Sama seperti minggu kemarin kan? Yang datang begitu saja tanpa tertebak?
Perjanjian bertemu setelah tujuh tahun lagi yang batal. Karena kenyataannya, aku bertandang di kost teman dan kamu sudah menungguku di ujung gang. Hahaha. And you'll see me waiting for you, on the corner of the street itu pun sungguh terjadi. Tapi kamu tahu, itu bukan pertemuan yang direncanakan. Begitu gerbang terbuka, aku sudah melihatmu terlebih dulu dan berbalik secepat yang kubisa sebelum kamu melihatku. Ponselku pun mendadak berbunyi, sebuah pesan darimu muncul di depan mata. Aku sudah di depan mobilmu, di ujung gang. Oh... Aku sudah tahu, keluhku dalam hati.
Tuhan mengabulkan permintaan kita untuk bertemu dengan ketidaksengajaan! Dan itu kabar baik.
Aku tidak sengaja keluar dari gerbang saat kamu baru saja disana, menungguku diatas motor dengan terhalang portal ujung jalan. Lalu aku tidak sengaja melihatmu lebih dulu sebelum kamu mengatakannya. Dan aku tidak tahu bahwa kamu akan disitu.


Memarahimu lewat telpon karena membatalkan janji tujuh tahun kita. Cukup keras untuk kamu bisa mendengar suaraku secara langsung melalui udara selain dari receiver. Tapi kamu tidak tahu kan, bahwa aku mengintipmu diam-diam dari balik tembok?


Tapi apa iya aku harus mencukupkan diri dengan melihatmu dari jauh? Tidak! Aku memutuskan untuk menemuimu! Jujur saja, aku tak mampu menahan diri melihatmu yang biasanya hanya kulihat dalam kenangan. Dan sekarang sosok itu, disitu. Nyata. Dan aku bisa mencapainya hanya dengan beberapa langkah dan akan kupercepat dengan berlari.


Kamu tahu, setiap pertemuan adalah momen. Indah dari hiasan gugup kita dan salah tingkahnya yang mewarnai. Kita takkan tahu apakah hari ini akan datang lagi esok atau ini yang terakhir. Jadi hari ini adalah selamanya. Kumanfaatkan sebaik-baik hari pertemuan kembali ini, agar tiada penyesalan di setelahnya. Rasakan seluruh rindu yang membuncah dari hangatnya tatapan, peluk dan kecupku yang sesungguhnya. Dan aku tak lagi peduli dengan puluhan pasang mata yang menatap penuh persepsi. Aku dan kau. Kita. Disini, sekarang.


Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment cause
I know that I
Grow a day older and see how this sentimental fool can be

If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity...